Breaking News
Loading...
Senin, 19 September 2016

Non Muslim berterima kasih lah bahwa Pemerintah Indonesia memberikan APBN buat UIN/IAIN

23.59

Non Muslim berterima kasih lah bahwa Pemerintah Indonesia memberikan APBN buat UIN/IAIN

 
 
 
 
 
 
Rate This

uin
Anda semua bisa bayangkan klo tidak ada UIN di Indonesia ini? Lalu para “Islam Jalan Pedang” dari Timteng seperti IM (PKS), HTI dan Salafy menguasai PTN Top Indonesia? Hanya sedikit PTN Top saat ini tidak berhasil dikuasai, salah satu yang tetap konsisten dengan nilai nusantara adalah UGM. UGM ini karena tradisi dialektikanya amat kuat maka tidak bisa mereka kuasai.
Salah satu teknik paling Efektif yang dilakukan UGM adalah dengan menghapus Asistensi Agama Islam (AAI) sebagai kewajiban. AAI ini dijadikan ajang indoktrinasi oleh kelompok garis keras pada para mahasiswa baru yang berisi doktrin2 kekerasan. Oleh UGM ini dihapus sehingga ini memutus media para garis keras mendoktrin mahasiswa barunya. Mudah2an PTN lain ikuti cara UGM ini menreduksi radikalisme dan fundamentalisme agama di kampus dengan hapuskan AAI.
Lihat UNS, ITS atau Unand yang dengan penuh bangga buat kebijakan wagu tentang PMDK (diterima tanpa test) bagi penghapal Quran misalkan. Sebuah kebijakan cara pikir mindset diskriminatif yang tidak pro kesetaraan dan pluralisme. Lihat para Mahasiswa Unair yang begitu amat keras buat Kekhalifahan Islam atau demo tolak pemakaian konde. Lihat mahasiswa IPB menjadi pusat HTI yang menolak demokrasi.
Jika tidak ada UIN, aku khawatir cuma UGM saja satu-satunya kampus Top di Indonesia yang mampu bertahan dengan nilai pluralisme. UI walapun punya jurusan sosial, belum tentu dialektika sosialnya sekuat UGM. Meskipun bisa saja UI cukup kuat tapi apakah akan mampu jadi benteng pluralis?
Kenapa UI dialektikan sosialnya bisa tidak sekuat UGM untuk menjadi benteng pluralis? Di karenakan mahasiswa dan sivitas akademika UI itu tinggal di kota besar yang membuat gamang. Di kota besar penuh dengan nilai2 hedonis. Akibatnya mereka gamang karena ini tidak sesuai dengan value Islam. Nah, kegamangan ini secara cerdik ditangkap oleh para garis keras dengan Jargon-Jargon Islam Fundamentalisnya agar nurut dengan ajaran kelompok garis keras. Ini tantangan terbesar sivitas akademika UI menghadapi agresifnya gerakan fundamental di kampusnya.
Unair yang jurusan sosialnya kuat sayang sekali tampaknya tergerus menjadi radikal. Pola-pola gerakan mahasiswa radikal marak di Unair bahkan pernah Rektornya (yang ketangkap KPK korupsi, ini satu bukti pemimpin yang buat kebijakan seakan bela Islam sesungguhnya juga tidak terbebas perilaku korup) juga mau buat usulan penerimaan PMDK ke mahasiswa dengan standardnya penguasaan agama: dengan hapal Quran. Sulit sekali jika sebuah institusi akan bisa pluralis jika buat aturannya eksklusif untuk menguntung sepihak golongan tertentu dan itu mayoritas.
ITB karena teknik tanpa jurusan sosial maka juga sangat mungkin mudah terjembab pada fundamentalis konservatif karena dialektika sosialnya tidak seketat di kampus2 ada ilmu sosial. Jadi, wajar jika di ITB dialektika sosial tidak kuat karena secara genetis itu kampus teknik.
Nah, UGM sebagai kampus pluralis tidak bisa sendirian menghadapi kepungan gerakan “Islam Jalan Pedang”. UGM butuh dukungan. Hebatnya justru dukungannya dari UIN yang kampus Islam. 50 UIN/IAIN/STAIN ini justru belajar Islam dengan metodologi ilmu; bukan dengan doktrin. Akibatnya HTI, IM dan Salafy mentah disini. UIN itu justru “antibody” paling ampuh untuk menhancurkan parasit, bakteri, jamur dan virus yang berasal dari IM, HTI dan Salafy beserta seluruh variannya. Anda tidak banyak temukan mahasiswa celana cingkrang dan jegotan disini sambil kafir2kan hanya karena beda pendapat dengan anda…
Hanya UIN jelas juga butuh UGM yang menjadi “brading center of excellent” di Indonesia. Tanpa ada UGM maka UIN akan kehilangan elan-nya saat berhadapan dengan alumni Unair atau IPB atau UI atau ITB misalkan yang sudah terinfeksi IM, HTI atau Salafy. UIN akan TKO di mata masyarakat dan policy publik karena akses alumni PTN Top jelas lebih hebat dari pada alumni UIN.
Nah, karena para intelektual UGM mempromosikan pluralisme saat bersamaan UIN mempromosikan Islam yang paradigmatik maka jadilah ini akan mewarnai spirit intelektual Islam Indonesai di masa depan yang berakal sehat, humanis dan toleran.
Jadi buat teman2 non Muslim berterima kasihlan anda semua dengan kesediaan pemerintah membiayai UIN. Justru UIN itu “GUARDIAN ANGEL” yang menjaga toleransi dan pluralisme di para intelektual kita.
Ps.
Aku cuma membahas APBN untuk UIN yah, bukan untuk urusan Haji atau lainnya😀
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe
Yogya Ferizal, Minang Uda Ferizal
sumber : https://ferizalramli.wordpress.com/2016/09/15/non-muslim-berterima-kasih-lah-bahwa-pemerintah-indonesia-memberikan-apbn-buat-uiniain/
Next
This is the most recent post.
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer